Tatanan Energi Baru, Dari Paris Sampai Sulawesi
pikiran-rakyat.com + referensiwisata.com + idntimes.com

Tatanan Energi Baru, Dari Paris Sampai Sulawesi

Minggu, 07 Februari 2021

Akan butuh kacamata besar untuk melihat apa yang membuat sulawesi kian menarik dan hubungannya dengan Paris. Ini semua dimulai dari berlangsungnya kesepakatan iklim paris. Sebelum sampai disitu, sebelumnya sudah saya tulis tentang Banjir Investasi Amerika dan China di Sulawesi

 

Paris climate change agreement yang disusun pada 2015, radiasinya sudah terasa sedari awal. Terar teror terus berlangsung, beberapa hari sebelum acara dibuka. Padahal ratusan pemimpin dunia bakal datang dan berkumpul di kota itu untuk membahas draft yang bertujuan untuk mengurangi emisi rumah kaca.

 

Beberapa hari sebelum pelaksanaan terjadi teror mulai dari penyanderaan, penembakan, sampai bom bunuh diri. Sebagai tuan rumah, artinya Prancis punya harapan besar untuk mewujudkan acara itu berjalan dengan baik. Dan Prancis sudah siap dengan segala risikonya, serta sudah punya rencana besar untuk mengimplementasikan kesepakatan tersebut.

 

Kesepakatan perubahan iklim dibuat draft 2015, ditandatangani 2016, dan diimplementasikan mulai 2020. Perhatiannya pada penurunan suhu bumi dengan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil yang pada akhirnyaa dunia perbankan akan perlahan diminta untuk mengurangi atau bahkan menghentikan pembiayaan untuk usaha yang terkait dengan minyak fosil.

 

Sekaligus beriringan dengan berpindah haluan menuju penggunaan kendaraan listrik. Dan syukur-syukur sumbernya dari energi baru terbarukan semisal yang cukup populer seperti panas matahari dan panas bumi. Tapi apa benar itu, benar-benar energi masa depan?


Ada yang menggadang-gadang listrik sebagai energi masa depan menggantikan minyak, ada pula hidrogen yang sudah dipakai di mobil dan kereta bahkan hasil buangannya air yang ramah lingkungan, ataukah reaktor garam cair yang saat sedang dibangun oleh Indonesia dan Amerika.

 

Cukup banyakk...tapi yg benar-benar sudah mulai digarap oleh Prancis adalah energi fusi nuklir yg polanya meniru matahari. Estimasinya, baru bisa akan diunduh energinya pada tahun 2025. Yang bahkan Amerika dan Inggris juga sedang berusaha mengejar pencapaian Prancis.

 

Apapun itu energinya, semoga memberi manfaat besar untuk kelangsungan hidup manusia di muka bumi ini. Tentunya dengan tidak mengabaikan kelestarian alam dan lingkungan agar tetap bisa ditinggali para manusia masa depan.

 

Singkatnya, kesepakatan itu akan mengarahkan dunia untuk mengurangi penggunaan energi fosil dan memindahkan arah pembiayaan ke sumber energi baru. Yang tentu saja tidak akan selesai dalam waktu setahun dua tahun, butuh proses yang lama tapi sudah terasa beberapa negara menyiapkan tatanan energi baru ini.

 

Berbagai negara industri otomotif mulai mengganti mesin bbm di trem, bus, mobil, sampai sepeda motor dengan mesin listrik yang bisa di cash. Artinya sudah tidak butuh tangki minyak lagi, tapi butuh baterai yang bisa di cash cepat dan tahan lama.


Urusan industri biarkan private business yang jalan, meskipun di dalam negeri juga sudah ada bus listrik, trem listrik, dan motor listrik. Oleh karena itu, saatnya melirik potensi baru yang dimiliki Indonesia yaitu industri baterai lithium yang nantinya bisa dipakai untuk kendaraan listrik.

 

Dimana lokasinya? Sulawesi, ya industri ini tepatnya akan dibangun di Sulawesi Tengah. Karena disanalah bahan baku nikel berasal, makanya bberpa tahun lalu ekspor mentah nikel perlahan dibatasi sampai distop. Kita akan olah sendiri, duitnya dari investor. Sudah ada yang siap, dari China, Korea, Amerika dan BUMN Inalum.

 

Sehingga, pemerintah harus mendukung dengan regulasi dan berbagai tawaran insentif menarik lainnya. Selain juga, pentinf untuk terus menjaga situasi di daerah tersebut kondusif. Ya, harus aman supaya investor yang buka pabrik dan para pekerjanya bisa menjalankan usahanya dengan baik tanpa ada gangguan.

 

Apa jadinya kan, kalau sampai situasinya tidak aman. Bikin takut sampai khawatir, siapa sih yang mau kerja ditempat yang mengancam nyawanya sendiri? Pasti bakal pikir pkir, apalagi juga investor bakal batal buat pabrik disitu kalau situasinya malah tambah anget.

 

Belum lagi, isu lain yang ikut membalutnya. Efeknya bakal berlipat-lipat bahkan bisa sampai membuat orang hilang fokus kisah lain yang ada dibelakangnya.

 

Indonesia sudah bukan lagi penonton, melainkan pemain yang juga harus waspada ketika sudah masuk ke lapangan. Siap siap kena semprit, kartu kuning atau bahkan kartu merah. Belum lagi tackling dari tim lain.

1 respon34 dilihat


Memuat Komentar