Pengertian, Tujuan, Dampak dan Cara Kerja Kebijakan Sanering
maxmanroe.com + detik.com

Pengertian, Tujuan, Dampak dan Cara Kerja Kebijakan Sanering

Jumat, 06 September 2019

Bank Indonesia dapat menggunakan 8 instrumen kebijakan moneter untuk mengatur jumlah uang beredar di masyarakat, salah satu bagian dari instrumen tersebut yaitu sanering.

 

Pengertian Sanering

Sanering adalah kebijakan moneter yang dilakukan oleh bank sentral dengan cara pengguntingan (pemotongan) nilai uang. Sanering dilakukan untuk menyehatkan kembali nilai uang yang sudah jatuh. Sanering dapat pula dipahami sebagai uang kertas yang digunting menjadi dua bagian, dimana satu bagian sebagai alat pembayaran dan  bagian lain ditukar dengan surat berharga pemerintah dengan harapan dapat mengendalikan uang beredar di masyarakat.

 

Tujuan Sanering

Tujuan sanering tidak bisa lepas dari 4 tujuan kebijakan moneter yang ditulis pada artikel sebelumnya, yaitu: menjaga stabilitas ekonomi, menjaga stabilitas harga, meningkatkan kesempatan kerja dan perbaikan neraca pembayaran. Namun, dapat pula dikatakan bahwa sanering punya tujuan khusus untuk mengurangi jumlah uang yang beredar di masyarakat. Kebijakan ini dilakukan oleh bank sentral apabila perekonomian sudah berada pada kondisi hiperinflasi (inflasi di atas 100%), artinya harga-harga barang melambung sangat tinggi.

 

Dampak Sanering

Dampak dilakukannya sanering akan dirasakan oleh pemerintah dan masyarakat. Pemerintah akan mendapatkan sumber dana tambahan bila tidak memiliki sumber lain, namun dapat berakibat menurunnnya kredibilitas pemerintah di mata masyarakat sehingga perencanaannya harus dilakukan dengan teliti. Sebab masyarakat akan merasakan dampak kerugian seperti dipaksa menukarkan sebagian uangnya dengan surat berharga pemerintah dan turunnya daya beli masyarakat.

 

Cara Kerja Sanering

Indonesia pernah melakukan sanering pada tahun 1950 yang dikenal dengan istilah Gunting Sjafruddin (Syafrudin Prawiranegara merupakan menteri keuangan Kabinet Hatta II yang membuat kebijakan menggunting uang yang berlaku 10 maret 1950 jam 20.00). Pemerintah mengumumkan akan memotong nilai uang pecahan 50ribu menjadi persentase tertentu misalnya 50%. Nilai pecahan uang yang terkena peraturan ini berkurang sejumlah 50%, sedangkan sisanya diganti dengan surat berharga pemerintah jangka panjang. Dari pengguntingan uang ini uang beredar berkurang langsung sebesar persentase yang diganti dengan surat berharga.

 

Namun, dapat saja skenario buruk terjadi saat pemerintah mengumumkan pengguntingan uang. Sebab saat uang dipotong nilainya menjadi 50% maka uang 50ribu yang awalnya bisa untuk membeli satu buah radio akan tidak dapat digunakan lagi untuk membeli satu buah radio. Hal ini terjadi karena harga radio tidak ikut dipotong dan tetap bernilai 50ribu, akibatnya masyarakat akan menjadi sulit membeli barang karena uangnya tidak cukup. Dapat pula dikatakan bahwa nilai uang menjadi terhadap barang menjadi lebih kecil dibanding sebelum sanering. Kalau dulu cukup mengeluarkan 50ribu untuk beli radio, maka setelah sanering harus mengeluarkan 100ribu.

 

Situasi tersebut akan menjadikan masyarakat menahan diri untuk membelanjakan uangnya, sebab harga barang menjadi lebih tinggi. Sehingga uang yang dikeluarkan masyarakat menjadi lebih sedikit dan berakibat turunnya jumlah uang yang beredar di masyarakat. Meskipun tujuan khusus sanering untuk menurunkan jumlah uang beredar di masyarakat tercapai, namun situasi tersebut dapat menyebabkan beberapa kerugian lain. Misalnya: bila situasi ketidakmampuan masyarakat membeli barang berlangsung dalam kurun waktu lama maka daya beli masyarakat akan turun, sebab turunnya nilai uang tidak diikuti turunnya harga barang. 

 

Kalau teman-teman pembaca perlu penjelasan lebih detail lagi yuk kita diskusikan lagi lewat komentar di bawah ini. Semoga artikel ini bisa bermanfaat dan makin menambah pemahaman atas instrumen kebijakan moneter khususnya sanering.

0 respon133 dilihat


Memuat Komentar